Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Kemarau Hujan

Kau Tak bisa mendengarnya Denyit gesekan atap logam Yang menyuara, menggelitik dengar Tangisan burung hujan Yang katanya, bersedih atas dunianya Atau seruan anjing tengah gelap Yang bergairah, mencari kekasihnya O, Sekali lagi, kau tak bisa mendengarnya Tanya adalah sesatunya yang kau dengar Dari maksud yang kurenda Dengan gelisah yang kusamai Hanya agar kau sambangi Ingin duka berhenti Bahkan sebelum rintih berbunyi 10 April 2020 eksikusa

Pembicaraan Tentang

Malam ini, Kepulan asap penuh di bawah payung Menyembul dan mendesak Padahal ia tahu adalah sia-sia Hanya asap, Akhirnya hanya berhambur kesana kemari Mengubah hilang menjadi ingatan Ah, Bukan itu intinya Bersama asap yang menari Tangan ini memegang payung Ditimpa mata air surga Tepat menyandingnya jua Walau sesak dan berdesak Asal dengannya tak apa Sebab jalan-jalan ini menjadi padat dan singkat Sleman, 2019 eksikusa

Aku Ingin

Ingin kusumbal mulut mereka Aku mencintainya Aku mencintainya Aku mencintainya Kami cinta Cinta kami Ingin kusumbal mulut mereka Aku sakit mencintainya Mereka sehat menghakimiku Harus aku mati untuk hidup Mati untuk hidup Seperti itu maumu Ingin kusumbal Yogyakarta, 29 April 2020 eksikusa

Simpang

Sesederhana lembayung, Yang menggaris kemelutnya langit Sesederhana bulan, Yang menempatkan dirinya kembali Sesederhana mentari, Yang meminta tempatnya kembali Pun kamu adalah sederhana yang kubuat sederhana Dengan cara yang tak menjadikanmu sederhana lagi Kerai, Menjadikanku tak mampu menempatkanmu Sebagai matahari bersama bintang Atau bahkan menjadikanmu bulan bersama pelangi Kerai, Bagaimanapun lentingan doa yang kuhunuskan di balik mega-mega, Kerai ini, hanyalah sesederhana mengatakan tidak, Pada hati yang mengharap iya. Yogyakarta, 24 April 2020 eksikusa

Berada

Langit di atas rumah . Saya adalah rumah. Selama langit masih di atas saya, maka saya masih hidup untuk menulis hati saya untuk bisa sekadar dibaca. Yogyakarta, 29 April 2020 eksikusa